fajarnews

Menapaki Petilasan Prabu Siliwangi

Redaksi : Iwan Surya Permana | Sabtu, 15 April 2017 | 09:25 WIB

Irgun
Gapura bertuliskan Situs Prabu Siliwangi Gunung Panten di sebuah kelokan tajam menuju lokasi paralayang.*

 

Fajarnews.com, MAJALENGKA- Ada rasa penasaran menyeruak saat tim fajarnews.com mengunjungi objek wisata Paralayang Gunung Panten, Desa Sidamukti, Kabupaten Majalengka. Di sebuah kelokan tajam menuju lokasi paralayang, terlihat gapura bertuliskan Situs Prabu Siliwangi Gunung Panten.

Di samping kiri gapura terdapat patung macan hitam sedang mengaum. Sementara di samping kanan gapura terpampang kayu lapuk bertuliskan Makam Kramat Prabu Siliwangi, Eyang Cipta Laksana, Eyang Cakra Dewa dan Eyang Haji Putih.

Hutan di balik gapura terlihat agak angker. Namun rasa penasaran ada apa di balik hutan rimbun, memaksa kami masuk dan menelusuri jalan setapak yang licin. Memasuki hutan yang sangat rimbun, ada perasaan tidak enak seolah-olah ada seseorang yang memperhatikan kehadiran di lokasi tersebut. Walaupun hanya sendirian memasuki hutan menuju patilasan Prabu Siliwangi, rasa takut yang mendera tak terasa karena dpenuhi rasa keingintahuan.

Jalan setapak itu terasa licin. Sesekali kaki terpeleset karena menginjak dedaunan dan akar pohon yang melintang di sepanjang jalan selintas. Keanehan pertama yang dijumpai adanya akar yang melingkar membentu huruf O. Entah apa yang tersirat makna akar tersebut.

Akar pohon tersebut melintas jalan setapak menyatu di seonggok batu berlumut. Perjalanan dilanjut memasuki kawasan hutan. Terasa dingin yang dirasakan saat makin dalam memasuki hutan. Terlintas dalam pikiran untuk balik lagi untuk minta bantuan seorang pejaga gapura.

Namun hal itu tidak dilakukan dengan maksud mencoba berpetualang di hutan angker. Hutan yang dilalui sangat rimbun bahkan terlihat jarang dilalui orang. Tak ada tapak kaki ataupun jejak yang menunjukkan jalan selintas ini jarang dilalui.

Makin ke dalam hutan terlihat ada tulisan menempel di sebuah pohon besar. Tulisan yang dipaku pada sebuah kayu berbunyi Sumur Cai Kasucian (Sumur Air Kesucian). Di bawahnya mengalir air jernih keluar dari sela-sela rerumputan.

Irgun
Darius, penjaga gapura Situs Prabu Siliwangi Gunung Panten.*

Tak seberapa lama kami dikagetkan sesosok manusia berdiri persis di belakang. Ternyata dia adalah Darius, seorang penjaga gapura. Ia berinisiatif untuk menemani dalam perjalanan menuju petilasan. Plong sudah dan rasa khawatir perlahan hilang.

Beberapa tempat ditunjukannya seperti Sumur Cai Kasucian berasal. Kalau dikatakan sumur tampaknya tidak jelas benar. Sebab yang terlihat hanya sekotak genangan air jernih bahkan sangat jernih yang secara perlahan mengeluarkan air. Barangkali itulah sumber dari Cai Kasucian.

Semakin dalam memasuki hutan, jalan setapak semakin licin. “Walaupun tidak turun hujan jalan ini tetap licin,” jelas Darius. Dari kejauhan mulai nampak sebuah bangunan putih beratap genteng. Semakin dekat terlihat pula sebuah batu datar yang sudah berlumut ditemani pohon tunggi menjulang.

“Di sinilah tempat Prabu Siliwangi beristirahat dan bersemedi. Maksud kedatangan Sang Prabu singgah di tempat ini dalam perjalanan menuju Cirebon untuk menemui cucunya yaitu Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati,” terangnya.

Batu datar itu kini masih letaknya tidak berubah sama seperti Prabu Siliwangi beristirahat dan melakunan semedi. Di samping batu datar terdapat sebuah kuburan yang ditaburi bunga di atas makamnya. (Irgun)

Loading Komentar....