fajarnews

Tiga Patung Bernilai Sejarah di Kota Cirebon

Redaksi : Iwan Surya Permana | Kamis, 26 Januari 2017 | 11:45 WIB

Irgun
Ptung Macan Ali di Taman Bunderan Dewandaru area utama Kesultanan Kasepuhan.*

 

Fajarnews.com, CIREBON- Kota Cirebon memang tidak memiliki banyak patung seperti yang terdapat di kota lain. Namun, satu hal yang menarik, walaupun keberadaaan patung sangat langka di Kota Udang, tetapi menyimpan keunikan dan bernilai seni tinggi.

Ada tiga patung yang sangat unik dan bernilai sejarah di Kota Cirebon. Cobalah tengok keberadaan dua buah patung macan putih sebagai lambang keluarga besar Pajajaran yang ditempatkan di Taman Bunderan Dewandaru area utama Kesultanan Kasepuhan.

Itulah macan putih yang dikenal dengan nama Macan Ali, lambang Keraton Cirebon. Patung tersebut terlihat tegas, kharismatik dan penuh wibawa.  Keberadaan Macan Ali sendiri sudah muncul sebelum Keraton Kasepuhan berdiri.

Konon, kata abdi dalem Keraton Kasepuhan, ada beberapa kerajaan di Cirebon yang juga menggunakan Macan Ali sebagai lambang kebesaran negaranya, yaitu Kerajaan Indraprahasta, Wanagiri dan Singhapura.

Walaupun saat ini masa keemasan keraton di Cirebon sudah memudar, namun Macan Ali masih menjadi lambang kebesaran yang sangat dihargai oleh masyarakat Cirebon. Keberadaan Macan Ali sebagai simbol menjaga keutuhan Keraton Kasepuhan.

Irgun
Patung penari topeng di pertinggaan Jalan Merdeka Kota Cirebon.*

Patung lainnya berupa patung penari topeng yang terdapat di pertinggaan Jalan Merdeka Kota Cirebon atau tidak jauh dari Pasar Talang Kota Cirebon. Ada tiga patung penari topeng ditempatkan di sana.  

Tari Topeng Cirebon merupakan salah satu tarian tradisional asal Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh Sunan Gunung Jati.

Seorang abdi dalem Keraton Kasepuhan mengisahkan, ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang. Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu.  

Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya Sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Terbentuk kelompok tari dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya.

Seiring berjalannya waktu, tarian ini kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang. Bentuk pelestarian Tari Topeng tersebut diwujudkan dalam pemasangan tiga penari topeng di bunderan Jalan Merdeka, Kota Cirebon.

Irgun
Patung besar seorang laki-laki tengah bergulat dengan seekor ular di Stadion Bima Kota Cirebon.*

Terakhir, patung yang memancar keberanian luar biasa terdapat di Stadion Bima, Kota Cirebon. Sebuah patung besar seorang laki-laki tengah bergulat dengan seekor ular. Walaupun kedua kakinya sudah terjepit, namun ia tetap bertahan dengan mengunci leher dan buntut ular.

Warga Cirebon menamai patung tersebut Patung Bima sesuai dengan nama stadion sepakbola terbesar di Wilayah III Cirebon. Kini di lokasi patung itu berada kerap digunakan warga untuk berselfi dan dikirim melalui medsos. Walaupun keberadaan patung di Kota Cirebon dapat dihitung dengan jari, namun nilai yang terkandung sangat dalam. (Irgun)

 

 

Loading Komentar....