fajarnews

Menelusuri Tradisi Nyiramkeun Pusaka Talaga Manggung di Majalengka

Redaksi : Rosyidi | Selasa, 1 Desember 2015 | 11:00 WIB

ABR
Dengan mengenakan pakaian hitam-hitam, sejumlah pria membawa air yang berasal dari sembilan mata air yang disimpan dalam  tempat khusus, sebelum dipergunakan untuk mencuci  pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung, Senin (30/11).

Fajarnews.com, CIREBON- Ratusan warga yang berasal dari berbagai daerah di Majalengka, rela berdesakan untuk menyaksikan tradisi nyiramkeun (membersihkan) benda-benda pusaka Kerajaan Talaga Manggung, Senin (30/11).

Mereka rela berdesakan lantaran berharap mendapatkan air yang digunakan untuk membersihkan benda-benda pusaka tersebut. Sebagian warga menggunakan air itu untuk membasuh muka. Namun, tidak sedikit yang menampung air tersebut ke dalam botol air mineral.

“Air ini nanti akan saya siramkan ke sawah,” ujar salah seorang pengunjung, sambil menampung air bekas mencuci benda pusaka tersebut.

Salah seorang panitia H Tatan Hartono mengatakan, air yang dipergunakan untuk membersihkan benda-benda pusaka tersebut berasal dari sembilan sumber mata air. Air tersebut diambil oleh kuncen menggunakan tempat penyimpanan yang terbuat dari bambu kuning.

“Kesembilan sumber mata air tersebut adalah, mata air Gunung Bitung, Situ Sangiang, Wanaperih, Lemah Abang, Ciburuy, Regasari, Cikiray, Cicama, dan mata air Nunuk,” jelasnya.

Sedangkan benda-benda pusaka peninggalan Kerajaan Talaga Manggung yang dibersihkan diantaranya berupa keris, meriam, tombak, gong sarenteng, patung simbar kancana dan Raden Panglurah.

Tradisi nyiramkeun sendiri hingga kini masih terus dipertahankan dengan baik. Tradisi yang terus dijaga dan dipelihara itu, merupakan salah satu aset sekaligus potensi wisata Kabupaten Majalengka.

Kepala Disporabudpar Kabupaten Majalengka, Ahmad Susanto, mengatakan, sudah seharusnya tradisi  nyiramkeun tetap terpelihara, agar generasi kini dan yang akan datang  dapat mengetahuinya.

Dari tradisi tersebut, menurutnya, generasi penerus dapat mengetahui bahwasanya  di Talaga  pernah ada kerajaan besar dan disegani raja-raja lain di masa itu.

”Tradisi membersihkan pusaka atau nyiramkeun ini harus mampu kita pelihara dengan baik, sampai kapan pun,” katanya.

"Nyiramkeun ini adalah salah satu potensi wisata budaya, karenanya  harus kita jaga kelestariannya,” ujarnya.*

 

ABDURRAKHMAN

Loading Komentar....